Majalah Kesehatan https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub <p><strong>Mission</strong></p> <p>Majalah Kesehatan is an influential venue for high quality of research, literature reviews and case reports in health science. We will make them visible as well as accessible for researchers, educators, health professional, policymaker and public communities. We elaborate excellent work from basic medicine, clinical medicine, and public health to make greater impact in health field.</p> <p>Majalah Kesehatan is published quarterly a year by the Faculty of Medicine, Universitas Brawijaya, and <a href="https://drive.google.com/file/d/1o8GMntZoPauLKhj2_YFXyF4yiAoqglBl/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">co-managed with Panji Hijau Muda Foundation, Alumni Association, Faculty of Medicine, Universitas Brawijaya</a> </p> <p>Majalah Kesehatan has been nationally accredited at SINTA 2 by Directorate General of Strengthening for Research and Development, The Ministry of Research, Technology, and Higher Education Republic of Indonesia (SK No. 158/E/KPT/2021). The accreditation period covers volume 6 issue 4, 2019 until volume 11 issue 3, 2024.</p> <p><strong>P-ISSN <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1180425824&amp;1&amp;&amp;" target="_BLANK">1907-8803</a></strong><br /><strong>E-ISSN <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1452130909&amp;1&amp;&amp;" target="_BLANK">2548-7698</a></strong></p> Faculty of Medicine Universitas Brawijaya en-US Majalah Kesehatan 1907-8803 Laporan Kasus: STEVENS-JOHNSON SYNDROME-TOXIC EPIDERMAL NECROLYSIS OVERLAP PADA ANAK KARENA OBAT CACING ORAL https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/544 <p><em>Stevens-Johnson Syndrome</em> (SJS) dan <em>Toxic Epidermal Necrolysis</em> (TEN) merupakan reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang dapat mengancam jiwa. Kejadian <em>SJS/TEN </em>jarang terjadi pada anak-anak dan salah satu etiologi terbanyak adalah obat-obatan seperti antibiotik, antiepilepsi, dan antipiretik. Kasus <em>SJS/TEN </em>karena obat cacing sangat jarang dilaporkan. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan wawasan bahwa <em>SJS/TEN </em>dapat terjadi pada anak-anak, dengan etiologi yang sangat beragam salah satunya adalah obat cacing, sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan, menegakkan diagnosis serta memberikan penanganan yang tepat. Seorang anak perempuan berusia 5 tahun dibawa ke UGD dengan keluhan ruam merah keunguan dengan lepuh menyebar di seluruh tubuh dan erosi ditutupi keropeng merah kehitaman di bibir, kemaluan dan dubur sejak lima hari terakhir. Tidak ada riwayat konsumsi obat sebelumnya selain albendazole yang diminum pasien tiga minggu sebelumnya. Pemeriksaan dermatologis menunjukkan makula dan <em>patch dusky red</em>, multipel, disertai bula dinding kendur, berisi cairan bening, beberapa bula ruptur meninggalkan erosi dengan dasar eritematosa dan <em>epidermal detachment</em> dengan <em>Nikolsky sign</em> dan <em>Asboe Hansen sign</em> yang positif. Hasil pemeriksaan serologis infeksi virus herpes simpleks menunjukkan hasil negatif. Pasien didiagnosis dengan <em>Stevens-Johnson Syndrome-Toxic Epidermal Necrolysis overlap</em> diduga karena albendazole dengan luas lesi mencapai 22%. Lesi kulit dan perbaikan klinis pasien tampak signifikan setelah menjalani perawatan di <em>Burn Care Unit</em> selama 13 hari, metilprednisolon 10 mg per 8 jam, dan terapi suportif lainnya. Kesimpulannya, diagnosis dan pengobatan <em>cutaneous ADRs</em> (cADRs) pada anak-anak menantang karena beberapa alasan, terutama karena anak-anak lebih sering terinfeksi virus dibandingkan dengan orang dewasa.</p> Galuh Dyah Puspitasari Dhany Prafita Ekasari Santosa Basuki Copyright (c) 2024 Majalah Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2024-06-13 2024-06-13 11 2 134 144 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.7 JUMLAH MONOSIT, KADAR INTERLEUKIN-6, DAN KADAR FAKTOR PENGHAMBAT MIGRASI MAKROFAG LEBIH TINGGI PADA KONDISI PREEKLAMPSIA DENGAN SEPSIS https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/984 <p>Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah &gt;140/90 mmHg, proteinuria, dan edema, yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan. Penyebab terjadinya preeklampsia tidak diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan terkait dengan respons inflamasi sistemik. Monosit dan makrofag yang telah distimulasi oleh endotoksin akan menghasilkan interleukin-6 (IL-6) yang dapat memicu respons inflamasi berlebih, dan mungkin memainkan peran sentral dalam respons inflamasi pada preeklampsia dan sepsis. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan jumlah sel monosit, kadar IL-6, dan kadar <em>macrophage migration inhibitory factors</em> (MIF) pada preeklampsia dan preeklamsia dengan sepsis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian <em>cross-sectional</em>. Sampel darah dikumpulkan dari partisipan di RSUD dr. Saiful Anwar Malang dan Bangil yang dikategorikan dalam kelompok normotensif, preeklampsia, dan preeklampsia dengan sepsis. Sel monosit dinilai pada hitung darah lengkap dengan metode <em>flow cytometry</em>. Kadar IL-6 dan kadar MIF dinilai menggunakan <em>enzyme-linked immunosorbent assay. </em>Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel monosit, kadar IL-6, dan MIF pada kelompok preeklampsia dengan sepsis secara signifikan lebih tinggi dibanding kelompok kontrol (<em>p </em>&lt; 0,001) dan preeklampsia (<em>p </em>&lt; 0,001). Didapatkan hubungan yang signifikan antara jumlah monosit dengan kadar IL-6 (r = 0,781; <em>p </em>&lt; 0,001), jumlah monosit dengan kadar MIF (r = 0,798; <em>p </em>&lt; 0,001), dan kadar IL-6 dengan kadar MIF (r = 0,654; <em>p </em>= 0,003) pada kelompok preeklampsia dengan sepsis. Pada kondisi preeklamsia dengan sepsis, peningkatan jumlah sel monosit dan MIF dapat memicu peningkatan kadar IL-6.</p> Bambang Rahardjo Edy Mustofa Margie Cassie Sanggelorang Linda Ratna Wati Copyright (c) 2024 Majalah Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2024-07-08 2024-07-08 11 2 71 81 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.1 PERBEDAAN KARAKTERISTIK BALITA DAN KELUARGA DENGAN DAN TANPA HOUSEHOLD DOUBLE BURDEN MALNUTRITION DI KOTA SEMARANG https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/662 <p><em>Household Double Burden Malnutrition</em> dapat terjadi dalam satu rumah tangga. Salah satunya dikenal dengan fenomena <em>Stunted Children and Overweight</em><em>/Obese</em><em> Mothers</em> (SCOM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan karakteristik balita dan keluarga <em>Normal Children Overweight/Obese Mothers (NCOM), Normal Children Normal Mothers (NCNM), Stunted Children Normal Mothers (SCNM) atau </em><em>Stunted Children and Overweight</em><em>/Obese</em><em> Mothers</em><em> (SCOM</em><em>. </em>Penelitian dilakukan dengan desain kasus-kontrol. Jumlah subjek penelitian adalah 72 anak usia 6-36 bulan di kota Semarang (36 subjek balita <em>stunting</em> dan 36 subjek balita normal). Subjek <em>stunting</em> dipilih secara sampel purposif dan subjek kontrol dipilih dengan mencocokkan usia dan jenis kelamin dengan subjek <em>stunting</em>. Data karakteristik diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner, pengukuran antropometri anak meliputi pengukuran BB dan PB (anak usia ≤2 tahun) atau TB (anak usia &gt;2 tahun), dan pengukuran antropometri ibu meliputi BB, TB, LP, dan LiLA. Data dianalisis secara kuantitatif meliputi analisis univariat dan bivariat (<em>one way Anova/ Kruskall-Walli</em>s <em>test</em>). Terdapat perbedaan hasil pengukuran antropometri balita pada kelompok SCOM, SCNM, NCOM, dan NCNM yang meliputi indikator BB aktual, LiLA, z-score BB/PB atau BB/TB, z-score BB/U, dan z-score PB/U atau TB/U (p &lt; 0,001). Terdapat perbedaan pendidikan ayah dan ibu antara kelompok balita <em>stunting </em>(SCOM dan SCNM) dengan kelompok balita normal (NCOM dan NCNM) (p = 0,009 dan p = 0,036). Terdapat perbedaan pengukuran antropometri aktual (BB, IMT, dan Lingkar pinggang), dan pengukuran antropometri selama kehamilan (BB sebelum hamil dan LiLA selama hamil) pada 4 kelompok (p &lt; 0,05). Tidak terdapat perbedaan karakteristik lain pada balita, ayah, dan ibu pada 4 kelompok. Kelompok NCNM memiliki antropometri anak dan ibu yang lebih baik dibandingkan kelompok NCOM, SCOM, dan SCNM. Pendidikan orang tua pada kelompok SCOM cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok lainnya.</p> Rachma Purwanti Ani Margawati Hartanti Sandi Wijayanti Ayu Rahadiyanti Dewi Marfu'ah Kurniawati Copyright (c) 2024 Majalah Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2024-05-20 2024-05-20 11 2 82 95 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.2 ANALISIS KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA PADA KELELAHAN KERJA PERAWAT DI RUANG ISOLASI COVID-19 (STUDI KASUS RSI UNIVERSITAS ISLAM MALANG) https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/550 <p>Keseimbangan kehidupan kerja perawat perlu diperhatikan oleh manajer rumah sakit karena dapat menimbulkan kelelahan kerja yang mengganggu proses pelayanan, pembiayaan, dan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keseimbangan kehidupan kerja pada kelelahan kerja perawat di ruang isolasi COVID–19. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>cross</em><em>-</em><em>sectional</em>. Responden penelitian berjumlah 73 orang perawat yang bekerja pada Ruang Isolasi COVID-19 Rumah Sakit Islam Malang. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner keseimbangan kehidupan kerja (Greenhauss-Collin) dan <em>Maslach Burnout Inventory</em> (MBI). Data dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan variabel <em>work life balance</em> memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kelelahan kerja (p &lt; 0.028). Selain itu juga ditemukan bahwa variabel umur, pendidikan, kerja shift memiliki pengaruh signifikan secara statistik terhadap kelelahan kerja. Sebagian besar perawat yang mengalami kelelahan memiliki proporsi keseimbangan kehidupan kerja tidak seimbang yang lebih tinggi. Sedangkan pada perawat yang tidak mengalami kelelahan memiliki proporsi keseimbangan kehidupan kerja yang seimbang. menunjukkan risiko untuk mengalami <em>b</em><em>urnout</em> pada orang dengan Work Life Balance yang tidak seimbang adalah 3,8 kali lebih besar daripada orang dengan <em>Work Life Balance</em> yang seimbang setelah variabel <em>confounding</em> umur, pendidikan, jenis kelamin, kerja shift, dan waktu bekerja dikontrol. Perawat yang memiliki keseimbangan kehidupan kerja tidak seimbang memiliki risiko 3,8 kali lebih besar mengalami kelelahan daripada perawat yang memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang seimbang. Kesimpulan penelitian ini adalah keseimbangan kehidupan kerja memberikan pengaruh pada kelalahan kerja.</p> Wahyudi Kuncoro Lilik Zuhriyah Kuswantoro Rusca Putra Kumoro Asto Lenggono Copyright (c) 2024 Majalah Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2024-07-02 2024-07-02 11 2 96 107 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.3 HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN PASIEN DENGAN KEGIATAN EDUKASI KESEHATAN DAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT ISLAM IBNU SINA PEKANBARU https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/643 <p>Promosi kesehatan di rumah sakit (RS) diyakini semakin penting karena adanya peningkatan kejadian penyakit kronis di seluruh dunia yang membutuhkan kepatuhan terhadap pengobatan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kepuasan pasien dapat meningkat melalui penerapan edukasi kesehatan yang dapat memenuhi harapan pasien. Melihat pentingnya kegiatan promosi kesehatan di RS maka ingin diketahui hubungan antara kepuasan pasien terhadap kegiatan edukasi kesehatan dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan RS. Penelitian potong lintang telah dilakukan di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru pada bulan Juni sampai Agustus 2022. Sebanyak 98 responden dilibatkan dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan uji <em>Chi square</em>, dengan p &lt; 0,05 dianggap signifikan berdasarkan uji statistik. Penelitian ini diikuti oleh 98 pasien. Rerata nilai kepuasan berdasarkan kuesioner adalah 23,29±4,25, dengan sebanyak 64,3% pasien puas terhadap pelayanan RS. Rerata skor kepuasan pasien terhadap kegiatan edukasi kesehatan dalam penelitian ini adalah 22,62±4,58. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan edukasi kesehatan di RSI Ibnu Sina Pekanbaru sesuai dengan yang pasien harapkan. Sebanyak 51,0% dalam penelitian ini menilai bahwa kegiatan edukasi kesehatan di RSI Ibnu Sina sesuai harapan. Hubungan antara kepuasan pasien terhadap pelayanan secara umum berbanding lurus dengan harapan pasien terhadap kegiatan edukasi kesehatan, di mana hubungan signifikan berdasarkan uji statistik (p = 0,000). Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan antara kepuasan pasien terhadap kegiatan edukasi kesehatan dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan di RSI Ibnu Sina Pekanbaru.</p> Agustiawan Arifah Devi Fitriani Mappeaty Nyorong Copyright (c) 2024 Majalah Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2024-06-21 2024-06-21 11 2 108 115 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.4 HEALTH BELIEF MODEL DAN FAKTOR LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN VAKSINASI COVID-19 PADA IBU HAMIL DI WILAYAH TANGERANG TAHUN 2021 https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/551 <p>Perubahan fisiologi serta penurunan imunitas merupakan faktor kerentanan ibu hamil terhadap penularan virus COVID-19. Kebijakan mengenai vaksinasi COVID-19 bagi ibu hamil sudah tertuang dalam peraturan pemerintah Indonesia. Ibu hamil diperkirakan tidak ingin melakukan vaksinasi, yang dikenal dengan fenomena keragu-raguan vaksin. Oleh karena itu, sangat diprioritaskan untuk memahami niat, motivasi, dan hambatan yang mempengaruhi ibu hamil untuk melakukan vaksinasi COVID-19. Faktor sosiodemografi, status kesehatan ibu hamil (<em>Health-Related Variable</em>) dan model teoritis keyakinan kesehatan dan persepsi risiko (<em>Health Belief Model</em>) merupakan instrumen penting untuk memahami faktor-faktor yang ada di balik pengambilan keputusan pada Ibu hamil dengan menilai apa saja yang akan memotivasi dan menghambat ibu hamil untuk melakukan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional study. </em>Sampel diambil menggunakan teknik <em>quota sampling </em>dengan jumlah 172 sampel. Hasil penelitian, sebanyak 161 ibu hamil memiliki kesediaan menerima vaksinasi COVID-19 yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, usia kehamilan, isyarat untuk bertindak dan pengetahuan mengenai kebijakan pemerintah tentang vaksinasi COVID-19. Kesimpulan, pengambilan keputusan vaksinasi COVID-19 pada ibu hamil di wilayah Tangerang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti informasi dari media massa, nasihat dari orang lain, kejadian COVID-19 pada kenalan/keluarga, serta berita tentang vaksin COVID-19.</p> Dian Puspitasari Effendi Dieta Nurrika Agil Triastuty Herry Novrinda Ela Susilawati Copyright (c) 2024 Majalah Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2024-07-02 2024-07-02 11 2 116 125 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.5 VALIDITAS DAN RELIABILITAS KUISIONER PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU WANITA USIA SUBUR TENTANG KONTRASEPSI JANGKA PANJANG https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/611 <p>Cakupan kontrasepsi saat ini masih rendah. Faktor yang paling berpengaruh dalam pemilihan metode kontrasepsi adalah sikap, pengetahuan, ketersediaan layanan kontrasepsi dan faktor lainnya. Pengetahuan, sikap dan perilaku seseorang dapat diukur melalui kuesioner. Sebelum digunakan dalam suatu penelitian maka kuesioner harus diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian bertujuan mendapatkan kuisioner yang baku dan valid untuk digunakan dalam penelitian terkait pengetahuan, sikap dan perilaku Wanita Usia Subur (WUS) tentang kontrasepsi jamgka panjang dengan model edukasi <em>peer</em> <em>group</em> dengan media <em>medical eligibility for contraceptive use for </em><em>A</em><em>ndroid</em>. Penelitian uji coba kuisioner merupakan penelitian kuantitatif dengan sampel 31 orang yang diberikan kuesioner dan diisi melalui <em>Google</em> <em>form</em>. Pengujian validitas kuesioner dilakukan dengan menggunakan teknik <em>Scale Corrected Item-Total Correlation</em> sedangkan uji reliabilitas dengan teknik <em>Alpha Chronbach</em>. Tes validasi kuesioner menunjukkan pada 40 item didapatkan sebanyak 30 item yang dikategorikan memenuhi syarat validitas memiliki nilai korelasi &gt;0,367. Tes reliabilitas item pengetahuan, sikap, dan perilaku didapatkan nilai <em>Alpha Chronbach</em> &gt; 0,367, maka kuesioner yang dites dapat dianggap konsisten. Hasil tes validitas dan reliabilitas kuesioner menunjukkan bahwa kuesioner tersebut memenuhi syarat dan dapat digunakan dalam penelitian di masyarakat.</p> Nora Veri Lia ljuna Alchalidi Copyright (c) 2024 Majalah Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2024-05-29 2024-05-29 11 2 126 133 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.6 Tinjauan Literatur: PATOGENESIS DAN TERAPI ATROFI VAGINA https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/672 <p>Atrofi vagina adalah masalah kesehatan yang paling banyak dialami oleh wanita menopause. Patogenesisnya berkorelasi dengan penurunan kadar hormon estrogen, yang mengakibatkan epitel vagina lebih tipis dengan proporsi sel-sel superfisial yang menurun. Pada dinding vagina terjadi penurunan jumlah serabut kolagen, penurunan massa otot polos dan penurunan vaskularisasi. Konsekuensi dari perubahan tersebut adalah dinding vagina mengalami penurunan dalam ukuran, elastis, lubrikasi, dan integritas lapisan mukosa. Gejala yang paling sering dialami adalah rasa nyeri pada vagina, yang akhirnya menyebabkan ketakutan untuk melakukan aktivitas seksual.Penanganan gejala atrofi vagina menjadi penting karena populasi wanita menopause yang besar dan akan terus meningkat. Tujuan penulisan tinjauan literatur adalah mengulas patogenesis atrofi vagina dan berbagai macam pilihan terapinya. Literatur didapatkan melalui pencarian pada <em>Google Scholar </em>dan PubMed <em>database</em> selama tahun 2022 dan dipilih terbitan 10 tahun terakhir, baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Kata kunci yang digunakan adalah menopause, atrofi vagina, patogenesis atrofi vagina, terapi atrofi vagina, fitoestrogen, <em>Selective Estrogen Estrogen Receptors</em> (<em>SERM)</em>, dan terapi sulih hormon. Hasil menemukan bahwa sebagian besar kasus tidak terdiagnosis dan hanya sedikit yang mendapat terapi yang tepat. Sebagian besar wanita menopause mengobati sendiri gejala atrofi vagina yang dialami dengan obat-obat yang dijual bebas dan ada banyak kasus yang tidak diobati. Terapi utama atrofi vagina adalah hormon yang diberikan secara sistemik atau topikal. Salah satu terapi sistemik adalah SERM. Terapi topikal pilihannya sangat banyak yaitu fitoestrogen, asam hialuronat, pelembab, pelumas, kolostrum, vitamin, herbal, terapi laser dan radio frekuensi. Berbagai jenis metode terapi memiliki mekanisme kerja yang berbeda, sebagian besar terbukti efektif mampu memperbaiki struktur dan fisiologi vagina serta mampu mengurangi gejala atrofi vagina dan juga memperbaiki fungsi seksual.</p> I Wayan Sugiritama Ni Made Linawati I Gusti Nyoman Sri Wiryawan Ida Ayu Ika Wahyuniari Gusti Ayu Dewi Ratnayanti I Gusti Kamasan Nyoman Arijana Copyright (c) 2024 Majalah Kesehatan https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2024-05-28 2024-05-28 11 2 145 158 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.8