Majalah Kesehatan FKUB https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub <p>Majalah Kesehatan is a peer- reviewed and open access journal that officially published by Faculty of Medicine, Universitas Brawijaya. The journal publishes scientific article, literature review, also case report related to medical and health science based on basic science and clinical medicine. The journal is published quarterly (March, June, September, and December).</p><p>Majalah Kesehatan has been nationally accredited at SINTA 2 by Directorate General of Strengthening for Research and Development, The Ministry of Research, Technology, and Higher Education Republic of Indonesia (SK No. 158/E/KPT/2021), with accreditation period: volume 6 issue 4, 2019 - volume 11 issue 3, 2024.</p><p><strong>P-ISSN <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1180425824&amp;1&amp;&amp;" target="_BLANK">1907-8803</a></strong><br /><strong>E-ISSN <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1452130909&amp;1&amp;&amp;" target="_BLANK">2548-7698</a></strong></p> Faculty of Medicine Universitas Brawijaya en-US Majalah Kesehatan FKUB 1907-8803 <img style="border-width: 0;" src="https://i.creativecommons.org/l/by-nc/4.0/88x31.png" alt="Creative Commons License" /><br />This work is licensed under a <br /><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License</a> HUBUNGAN GANGGUAN KOGNITIF DENGAN DEPRESI DAN AKTIVITAS PENYAKIT PASIEN LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/538 <p>Lupus eritematosus sistemik (LES) adalah suatu penyakit inflamasi kronis yang mempengaruhi banyak organ termasuk sistem saraf pusat. Prevalensi gejala neuropsikiatri berupa gangguan kognitif pada pasien masih cukup tinggi. Gangguan kognitif pada domain memori, eksekutif, dan atensi akan menyebabkan pasien LES mengalami depresi. Pasien LES yang mengalami depresi akan menyebabkan hasil pengobatan yang buruk. Gangguan kognitif juga berhubungan dengan aktivitas penyakit LES. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan gangguan kognitif dengan depresi dan peningkatan aktivitas penyakit pasien LES. Metode penelitian ini observasi <em>cross sectional</em>. Subjek penelitian ialah 82 pasien LES di RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Instrumen penelitian menggunakan <em>Beck Depression Inventory II</em> (BDI-II) untuk depresi, <em>Montreal Cognitive</em> <em>Assessment </em>(MocA-Ina) untuk gangguan kognitif, dan <em>Systemic Lupus Erythematosus Disease Activity Index</em> (SLEDAI) untuk aktivitas penyakit. Hasil menunjukkan prevalensi gangguan kognitif pada subjek penelitian adalah 64,6% dengan domain memori paling sering terganggu. Prevalensi depresi sebesar 57,3%. Proporsi pasien gangguan kognitif dengan depresi lebih banyak (62,3%) dibandingkan tanpa depresi. Aktivitas penyakit berat memiliki prevalensi paling tinggi yakni 54,4%. Gejala aktivitas penyakit paling sering didapatkan ialah alopesia dan artirtis (65,9%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan kognitif dengan depresi (p = 0,151). Terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan kognitif dengan aktivitas penyakit LES (p = 0,009). Domain kognitif berhubungan dengan aktivitas penyakit LES (p = 0,02). Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan kogntif terhadap depresi pada pasien LES dan terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan kognitif dengan aktivitas penyakit pasien LES.</p> Liko Maryudhiyanto Bantar Suntoko Soesmeyka Savitri Innawati Jusup Rihadini Titis Hadiati Copyright (c) 2022 Majalah Kesehatan FKUB http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2022-11-09 2022-11-09 9 3 121 130 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.1 PERBEDAAN AKTIVITAS MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER PREKLINIK BERDASARKAN LAMA PENDIDIKAN SELAMA PANDEMI COVID-19 https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/510 <p>Pandemi COVID-19 mengharuskan mahasiswa, termasuk mahasiswa pendidikan dokter preklinik untuk beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring. Terjadi perubahan aktivitas akademik, seperti perkuliahan daring, penelitian, dan konsultasi dengan dosen Penasihat Akademik (PA), serta melakukan protokol kesehatan selama pandemi. Lama pendidikan menentukan pola aktivitas mahasiswa, hal ini terkait dengan beratnya beban belajar yang harus ditempuh, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir sehingga mempengaruhi aktivitas kesehariannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aktivitas mahasiswa pendidikan dokter preklinik berdasarkan lama pendidikan dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pelaksanaan protokol kesehatan selama pandemi COVID-19. Penelitian analitik <em>cross-sectional</em> ini dilakukan pada 255 mahasiswa tahun kedua hingga keempat melalui <em>purposive sampling</em> di Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya. Mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi mengisi kuesioner yang sudah tervalidasi melalui <em>Google form</em>. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang bermakna proporsi mahasiswa berdasarkan lama pendidikan yang menjalani perkuliahan dengan beban yang lebih berat (p = 0,020), sulit fokus (p = 0,034), tetap di rumah saja (p = 0,042), tidak melakukan perjalanan jarak jauh (p = 0,039), tidak melakukan konsultasi PA minimal 4 kali (p = 0,002), menemukan literatur penelitian (p = 0,004), serta tidak mampu memperoleh data penelitian dengan mudah (p = 0,044) yang didominasi oleh mahasiswa tahun keempat. Hal ini dapat terjadi akibat tingkat stres psikologis maupun beban kuliah yang lebih berat, serta kurangnya waktu luang mahasiswa. Mayoritas penelitian dipilih oleh mahasiswa tahun keempat sebelum pandemi sehingga mengubah rencana penelitian akibat penutupan universitas. Kesimpulan, didapatkan perbedaan aktivitas mahasiswa pendidikan dokter preklinik dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pelaksanaan protokol kesehatan selama pandemi COVID-19 berdasarkan lama pendidikan.</p> Besut Daryanto Brenda Kristi Eriko Prawestiningtyas Copyright (c) 2022 Majalah Kesehatan FKUB http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2022-11-09 2022-11-09 9 3 131 141 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.2 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA ANAK USIA 6-24 BULAN DI MASA PANDEMI COVID-19 https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/525 <p>Pemberian ASI secara eksklusif dianjurkan dilakukan selama 6 bulan pertama kelahiran. Selama masa pandemi Covid-19 prevalensi pemberian ASI eksklusif dilaporkan mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif selama masa pandemi Covid-19. Penelitian dilakukan dengan desain <em>cross-sectional</em> di Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri pada bulan Januari Tahun 2022. Subjek penelitian ini sebanyak 104 anak usia 6 -24 bulan dan responden penelitian yaitu ibu dari subjek penelitian. Variabel yang diteliti yaitu praktik pemberian ASI eksklusif, karakteristik ibu, karakteristik ayah, riwayat persalinan, Berat Badan Lahir (BBL), Panjang Badan Lahir (PBL), praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD), praktik pemberian makan prelakteal, kebiasaan minum dengan dot, kebiasaan minum susu formula, kebiasaan minum selain ASI dan susu formula, serta riwayat infeksi Covid-19 pada keluarga. Data dianalisis dengan teknik univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis bivariat dilakukan dengan uji korelasi dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif adalah praktik IMD dan pemberian makan prelakteal (p = 0,015; OR = 6,232 dan p &lt; 0,001; OR = 0,034). Kesimpulan penelitian ini adalah faktor Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian makanan prelakteal berhubungan dengan praktik ASI eksklusif.</p> Rachma Purwanti Mentari Suci Ramadini Sujono Copyright (c) 2022 Majalah Kesehatan FKUB http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2022-11-09 2022-11-09 9 3 142 150 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.3 ANALISIS HUBUNGAN MAKRONUTRISI DENGAN DAYA TAHAN KARDIORESPIRATORI, KECEPATAN, DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI PADA ATLET LARI AMATIR https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/539 <p>Kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh ketika melakukan aktivitas fisik tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Nutrisi menjadi komponen penting dalam setiap program kebugaran fisik. Asupan nutrisi yang tepat sangat diperlukan bagi atlet, karena akan digunakan untuk mengoptimalkan kemampuan tubuh selama berlangsungnya latihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan makronutrisi dengan daya tahan kardiorespiratori, kecepatan, dan kekuatan otot pada atlet lari amatir. Penelitian ini adalah penelitian korelasional. Teknik penarikan sampel secara <em>purposive sampling</em>. Sampel penelitian adalah anggota Brebes <em>Runners</em> berjumlah 18 orang. Instrumen pengumpulan data menggunakan formulir <em>food record</em> untuk mengukur asupan makronutrisi dan <em>multi fitness test</em>, lari 50 meter, dan <em>leg dynamometer</em> untuk mengukur tingkat kebugaran jasmani. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara makronutrisi dengan daya tahan kardiorespiratori, kecepatan, dan kekuatan otot tungkai (p &gt; 0,05) pada atlet lari amatir. Kesimpulan penelitian ini adalah makronutrisi tidak berhubungan dengan daya tahan kardiorespiratori, kecepatan, dan kekuatan otot tungkai pada atlet lari amatir.</p> Wara Widi Wigati Mohammad Arif Ali Dewi Marfu’ah Kurniawati Gustiana Mega Anggita Copyright (c) 2022 Majalah Kesehatan FKUB http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2022-11-09 2022-11-09 9 3 151 158 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.4 PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN DIABETES MELLITUS YANG MENJALANKAN PUASA RAMADAN https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/517 <p>Perkembangan pesat prevalensi diabetes mellitus (DM) telah ditunjukkan oleh negara-negara ekonomi rendah dan menengah. Bagi seorang muslim dengan diabetes, adanya kewajiban puasa saat bulan Ramadan tentunya akan menjadi tantangan. Penelitian terakhir oleh sejumlah peneliti dari beberapa negara menyebutkan bahwa muslim dengan diabetes rata-rata tetap melaksanakan puasa terlepas dari risiko yang dihadapi, dan perlunya pemberian pengetahuan untuk mengurangi atau menghindari terjadinya komplikasi. Penelitian ini adalah penelitian diskriptif analitik yang menelaah gambaran umum pengetahuan dan perilaku pasien diabetes yang menjalankan puasa Ramadan. Penelitian ini adalah penelitian <em>pilot survey</em> dan belum pernah ada penelitian yang serupa yang telah dilakukan di Indonesia. Target populasi yang menjadi sasaran adalah pasien diabetes yang menjalankan puasa Ramadan, baik tipe 1 maupun tipe 2. Penetapan sampel menggunakan metode <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan <em>Google form</em> selama satu bulan Ramadan dalam bulan Juni hingga Juli 2021. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien DM telah mengetahui bagaimana menjalankan puasa sekaligus tetap menjaga kondisi. Walaupun hasil tidak secara signifikan menunjukkan adanya hubungan antara indikator-indikator DM dengan variabel bebas dari pasien (p &gt; 0,001), namun hasil ini tetap dapat menggambarkan bahwa pasien tetap membutuhkan pendampingan untuk lebih memaksimalkan pengendalian DM selama menjalankan puasa Ramadan.</p> Fajar Ari Nugroho Catur Saptaning Wilujeng Dian Handayani Inggita Kusumastuty Barakatun Nisak Mohd Yusof Copyright (c) 2022 Majalah Kesehatan FKUB http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2022-11-09 2022-11-09 9 3 159 170 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.5 Laporan Kasus: TERAPI KOMBINASI KRIM ASAM GLIKOLAT 8% DAN PEELING ASAM GLIKOLAT 15% PADA HIPERPIGMENTASI AKSILA: SERIAL KASUS PADA 2 PASIEN https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/406 <p>Hiperpigmentasi aksila termasuk hiperpigmentasi pascainflamasi yang banyak terjadi pada wanita kulit gelap di daerah tropis. Modalitas terapi yang dapat digunakan salah satunya adalah <em>peeling </em>kimiawi menggunakan asam glikolat (<em>glycolic acid</em>, GA). Tujuan laporan kasus ini untuk melihat perbaikan hiperpigmentasi aksila yang diberi terapi kombinasi krim GA 8% dan peeling GA 15%. Dilaporkan 2 pasien perempuan berusia 24 dan 23 tahun dengan keluhan kulit kedua ketiak menghitam dan kasar. Pasien pertama rutin menggunakan antiperspiran, sedangkan pasien kedua jarang. Kedua pasien sering mencukur rambut ketiaknya. Pada pasien dilakukan pemeriksaan dermatologis, didapatkan <em>patch</em> hiperpigmentasi, batas tidak tegas, tepi ireguler, bentuk dan ukuran bervariasi. Kedua pasien didiagnosis hiperpigmentasi aksila. Lesi difoto dan dinilai menggunakan <em>Von Luschan’s Chromatic Scale </em>oleh 3 orang penilai independen. Pasien diberikan terapi krim GA 8% tiap malam hari dan <em>peeling</em> GA 15% 2 kali dengan interval 4 minggu. Hiperpigmentasi dinilai pada minggu ke-0, minggu ke-3, dan minggu ke-8. Setelah 8 minggu didapatkan penurunan skor <em>Von Luschan’s Chromatic Scale</em>. <em>Peeling</em> GA 15% termasuk dalam <em>peeling</em> kimiawi superfisial. Hiperpigmentasi kulit adalah salah satu indikasi <em>peeling </em>kimiawi superfisial. Pada hiperpigmentasi aksila dapat diberikan <em>peeling </em>kimiawi GA 15%, dan untuk hasil yang lebih optimal ditambahkan perawatan harian di rumah menggunakan krim GA 8%. Pada kedua pasien, setelah diberikan terapi terjadi perbaikan klinis. Pada 2 kasus ini telah terbukti bahwa terapi kombinasi krim GA 8% dengan <em>peeling </em>GA 15% dapat mengurangi keluhan hiperpigmentasi pascainflamasi pada aksila.</p> Sinta Murlistyarini Noor Hidayah Copyright (c) 2022 Majalah Kesehatan FKUB http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2022-11-09 2022-11-09 9 3 171 180 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.6 Tinjauan Literatur: SUMBER POTENSIAL PENYEBARAN SARS-CoV-2 DARI LINGKUNGAN RUMAH SAKIT DAN PENTINGNYA PEMANTAUAN SANITASI RUMAH SAKIT UNTUK MENEKAN PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA https://majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/455 <p>Beberapa bukti menunjukkan sumber potensial penyebaran SARS-CoV-2 dari lingkungan rumah sakit. Sanitasi rumah sakit penting untuk mencegah infeksi nosokomial dan menekan penyebaran COVID-19. Telaah literatur ini bertujuan mengidentifikasi potensi bahaya terkait sanitasi serta metode pemantauan sanitasi di rumah sakit selama pandemi COVID-19. Literatur diperoleh dengan menelusuri jurnal dan laporan lembaga resmi luar negeri terkait COVID-19 di internet. Banyak prosedur di rumah sakit yang menghasilkan aerosol, sementara banyak ruangan di rumah sakit belum memenuhi standar ventilasi udara. Di sisi lain, karena penapisan tidak memadai, pegawai rumah sakit dapat bertemu pasien COVID-19 di semua area rumah sakit. Kondisi ini menimbulkan keraguan akan kebersihan udara dan permukaan benda-benda, serta penyebaran virus antar ruangan di rumah sakit. Identifikasi sanitasi rumah sakit yang sering terlewatkan adalah: 1) kontaminasi virus di udara dan permukaan benda-benda di seluruh area rumah sakit, 2) kontaminasi virus di kasur, bantal, dan guling yang sering terlewatkan pada pembersihan rutin, 3) kontaminasi virus di toilet oleh proses aerosolisasi ekskreta, dan 4) kontaminasi virus di air limbah rumah sakit. Sebaiknya terdapat instansi di setiap kota/kabupaten yang dapat menangani pemeriksaan spesimen lingkungan yang dikumpulkan dari berbagai rumah sakit. Deteksi virus di udara, dapat menggunakan kit deteksi SARS-CoV-2 udara; deteksi permukaan benda, dapat menggunakan swab; pada limbah, dapat digunakan sampel cairan limbah untuk deteksi genom SARS-CoV-2 dengan RT-PCR. Hasil pemeriksaan dapat menjadi panduan untuk mengubah atau mempertahankan aturan dan kebijakan rumah sakit. Kesimpulannya, identifikasi potensi bahaya serta kebutuhan dan metode pemantauan sanitasi rumah sakit harus dikembangkan untuk mencegah infeksi nosokomial COVID-19 dan menekan penyebaran pandemi.</p> Dian Hasanah Copyright (c) 2022 Majalah Kesehatan FKUB http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2022-11-09 2022-11-09 9 3 181 198 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.7