PENGARUH JUMLAH POLIMER XYLITOL DALAM SISTEM DISPERSI PADAT TERHADAP DISOLUSI SUPPOSITORIA IBUPROFEN

Ni Luh Indah Puspayani, Dahlia Permatasari, Adeltrudis Adelsa Danimayostu

Abstract


Berdasarkan penggolongan Biopharmaceutics Classification System (BCS), ibuprofen termasuk ke dalam BCS kelas II yaitu obat yang memiliki permeabilitas tinggi dan kelarutan rendah dalam air. Teknik dispersi padat digunakan secara luas untuk meningkatkan kelarutan obat yang memiliki kelarutan rendah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan polimer xylitol dalam meningkatkan kelarutan ibuprofen melalui pembentukan dispersi padat dalam sediaan suppositoria berbasis lemak coklat. Dispersi padat dibuat menggunakan metode pelelehan dengan perbandingan ibuprofen:xylitol adalah 1:1 dan 1:2. Sedangkan sediaan suppositoria dibuat dalam tiga formula yaitu menggunakan ibuprofen murni, dispersi padat ibuprofen:xylitol 1:1 dan 1:2. Hasil uji difraksi sinar-X menunjukkan bahwa terjadi penurunan intensitas pola difraksi dari dispersi padat dibandingkan dengan ibuprofen murni yang menunjukkan terjadinya penurunan derajat kristalinitas. Hasil uji disolusi menunjukkan adanya peningkatan jumlah ibuprofen yang terdisolusi selama 120 menit dan besarnya efisiensi disolusi pada menit ke-120 dari sediaan suppositoria yang mengandung dispersi padat. Analisis statistik dengan oneway Anova menunjukkan adanya peningkatan jumlah ibuprofen yang terdisolusi dan efisiensi disolusi yang signifikan dari suppositoria yang mengandung dispersi padat dibandingkan dengan ibuprofen murni (p = 0,001). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah polimer xylitol menyebabkan peningkatan kelarutan ibuprofen yang lebih besar dan formula yang optimum adalah sediaan suppositoria yang mengandung dispersi padat ibuprofen:xylitol sebesar 1:2.

 

Kata kunci: disolusi, dispersi padat, ibuprofen, suppositoria, xylitol


Full Text:

PDF

References


Fuadi, TB dan Wijayahadi N. Faktor Risiko Kejang Demam pada Anak. Sari Pediatri. 2010; 12(3):142-144

Bushra R and Aslam N. An Overvew of Clinical Pharmacology of Ibuprofen. Pakistan: Ziauddin Collage of Pharmacy. 2010. P 155-157.

Autret E, Reboul-Marty J, Henry-Launois B, Laborde C, Courcier C, Goehrs JM, et al. Evaluation of Ibuprofen Versus Aspirin and Paracetamol on Efficacy and Comfort in Children with Fever. Eur J Clin Pharmacol. 1997; 51:367-371.

Potthast H, Dressman JB, Junginger HE, Midha KK, Oeser H, Shah VP, Vogelpoel H and Barends DM. Biowaver Monographs for Immediate Release Solid Oral Dosage Forms: Ibuprofen. J Pharm Science. 2005; 94(10):2121-31.

Yasir M, Asif M, Kumar A, and Aggarval A. Biopharmaceutical Classification System: An Account. International Journal of PharmTech Research. 2010; 2(3):1681-1690.

Khan A, Iqbal Z, Shah Y, Ahmad L, Ismail, Zia Ullah, and Ullah A. Enhancement of Dissolution Rate of Class II Drugs (Hydrochlorothiazide); A Comparative Study of the Two Novel Approaches; Solid Dispersion and Liquid-Solid techniques. Sandi Pharmaceutical Journal. 2015; 23:650–657.

Nikghalb LA, Singh, G, Singh G, and Kahkeshan KF. Solid Dispersion: Method and Polymers to Increase the Solubility of Poorly Soluble Drugs. Journal of Applied Pharmaceutical Science. 2012; 2(10):170-175.

Phaechamud T and Sotanaphun U. Dissolution of Curcuminoids from Solid Dispersion Using Different Carriers. Research Journal of Pharmaceutical Biological and Chemical Sciences. 2010; 1(3):.202-205.

Ansel HC and Allen LV. Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System. 11th Edition. USA: Lippincott Williams & Wilkins. 2014. P 364-396.

Jones D. Pharmaceutical Dosage Form and Design. London: Pharmaceutical Press. 2008. P 157-175

Ibrahim SA, El-Faham TH, Tous SS, Mostafa EM. Formulation, Release Characteristics and Evaluation of Ibuprofen Suppositories. International Journal of Pharmaceutics. 1990; 61:1-7.

Suryani MD. Peningkatan Laju Disolusi Gliklazid Menggunakan Sistem Solid Self-Emulsifying. Tugas Akhir. Tidak diterbitkan, Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. 2011.

Hadisoewignyo L, Fudholi A, Muchalal M. Pembuatan Garam Ibuprofen dan Aplikasinya dalam Sediaan Tablet. Majalah Farmasi Indonesia. 2009; 20(3):141-150.

Amelia. Penentuan Displacement Value Allupurinol dan Meloxicam untuk Suppositoria dengan Pembawa PEG 1000-4000 dan Oleum Cacao. Surabaya: Fakultas Farmasi Universitas Surabaya. 2007. Hlm 19-23.

Milala AS, Pradana AT, dan Boehe AP. Karakteristik Fisik dan Displacement Value Supositoria Neomisin Sulfat berbasis PEG. Jurnal Farmasi Indonesia. 2013; 6(3):172-176.

Majri M dan Baseir M. Formulation and Evaluation of Ibuprorofen Suppositories. International Research Journal of Pharmacy. 2016; 7(6):87-90.

Octaviani L. Mikroenkapsulasi Ibuprofen dengan Teknik Pautan Silang Gelatin-Formaldehid dan Karakterisasinya, Tugas Akhir. Tidak diterbitkan. Bandung: Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. 2007.

Hui YH. Handbook of Food Science, Technology, and Engineering. Boca Raton: CRC Press. 2005.

Kauss T, Gaubert A, Boyer C, Boubakar BB, Manse M, Massip S, et al. Pharmaceutical Development and Optimization of Azithromycin Suppository for Paediatric Use. International Journal of Pharmaceutics. 2013; 441:218– 226.

Pankaj S and Prakash J. Solid Dispersion: An Overview. International Journal of Pharmaceutical Research and Bio-Science. 2013; 2(3):114-43.

Milala A, Pradana A, dan Boehe A. Karakteristik Fisik dan Displacement Value Supositoria Neomisin Sulfat berbasis PEG. Jurnal Farmasi Indonesia. 2013; 6(3):172-176.

WHO. Revision of General Monograph: Suppositories. Geneva: WHO. 2014.

Tian B, Zhang L, Pan Z, Gou J, Zang Y, and Tang X. A Comparison of the Effect of Temperature and Moisture on the Solid Dispersions: Aging And Crystallization. Int J Pharm. 2014; 475(1-2):385-92. doi: 10.1016/j.ijpharm.2014.09.010.




DOI: https://doi.org/10.21776/ub.majalahkesehatan.2017.004.03.4

Refbacks

  • There are currently no refbacks.