ANALISIS PERBANDINGAN FIKSASI MENGGUNAKAN LARUTAN FORMALIN DAN LARUTAN CARNOY PADA SOMIT, NEURAL TUBE, DAN VASKULAR EMBRIO AYAM USIA 48 JAM DENGAN PEWARNAAN HEMATOXYLIN-EOSIN

Ernst Randy Nuralim, Indriati Dwi Rahayu, Rachmad Sarwo Bekti

Abstract


Penelitian embriologi memiliki peran penting dalam dunia kesehatan, oleh karena itu diperlukan pengetahuan berbagai faktor pendukung salah satunya adalah larutan fiksatif. Meskipun telah diketahui bahwa larutan Carnoy memberikan efek pengerutan hingga dapat menghancurkan sitoplasma, banyak penelitian yang menggunakan larutan Carnoy sebagai pilihan utama untuk larutan fiksatif pada penelitian embrio ayam. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kualitas gambaran embrio yang difiksasi menggunakan larutan Carnoy dan membandingkannya dengan kualitas gambaran  embrio yang difiksasi menggunakan larutan formalin. Telur ayam yang digunakan diperoleh dari peternakan ayam Randu Agung Singosari. Telur ayam diinkubasi selama 48 jam, lalu satu kelompok difiksasi menggunakan larutan Carnoy dan kelompok yang lain difiksasi menggunakan larutan formalin. Hasil fiksasi kemudian dibuat preparat dan diwarnai dengan pewarnaan hematoxylin-eosin (HE), untuk selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap somit, vaskuler, dan neural tube. Hasil penelitian dianalisis menggunakan paired T test menunjukkan bahwa larutan Carnoy memberikan hasil yang signifikan berbeda (p < 0,05) dengan larutan formalin pada evaluasi somit dan vaskuler embrio ayam usia 48 jam, namun memberikan hasil yang signifikan tidak berbeda (p > 0,05) penggunaan larutan Carnoy dengan larutan formalin pada evaluasi neural tube embrio ayam usia 48 jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah fiksasi dengan larutan formalin menunjukkan hasil yang berbeda dengan fiksasi menggunakan larutan Carnoy pada evaluasi somit dan vaskuler, namun tidak berbeda pada evaluasi neural tube embrio ayam usia 48 jam.

 

Kata kunci: embrio, hematoxylin-eosin, larutan Carnoy, larutan formalin, somit, neural tube,  vaskular.

Full Text:

PDF

References


Guus van der Bie. Early Development from a Phenomenological Point of View. Amsterdam: Louis Bolk Instituut. 2001.

Drake VJ, Koprowski SL, Lough JW, Smith SM. Gastrulating Chick Embryo as a Model for Evaluating Teratogenicity: A Comparison of Three Approaches. Birth Defects Research (PartA). Clinical and Molecular Teratology. 2006; 76:66–71.

Jusuf AA. Histoteknik Dasar. Tesis. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009.

Landis JR and Koch GG. The Measurement of Observer Agreement for Categorical Data. Biometrics. 1977; 33:159-74.

Talukder SI. Histopathology Techniques: Tissue Processing and Staining. (Online). 2007.http://www.talukderbd.com/lectures/tissue_processing_note.pdf.

Sumida SS. Biology 340, Comparative Embryology, Laboratory Exercise 3. (Online). 2008. http://www. stuartsumida. com/ BIOL340/340Lab3A.pdf.

Meyer W and Hornickel IN. Tissue Fixation–The Most Underestimated Methodical Feature of Immunohistochemistry. Méndez-Vilas and Díaz J (Editors). Microscopy: Science, Technology, Applications and Education. 2010. P 953–959.




DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.majalahkesehatan.2017.004.01.2

Refbacks

  • There are currently no refbacks.