Hubungan Tingkat Konsumsi Protein, Zat Besi (Fe) dan Zinc (Zn) dengan Kondisi Penyembuhan Luka Perineum Derajat II pada Ibu Nifas

Authors

  • Septia Sari Dewi FKUB
  • Soemardini Soemardini FKUB
  • Fajar Ari Nugroho FKUB

Abstract

Salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia adalah infeksi. Infeksi terjadi karena dampak status gizi yang tidak adekuat sehingga mengganggu proses penyembuhan luka. Infeksi ini sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas bagi kebanyakan pasien sehingga memerlukan perhatian klinis yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat konsumsi protein, zat besi (Fe) dan zinc (Zn) dengan kondisi penyembuhan luka perineum derajat II. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan cross sectional di BPS Ny. Sumidjah Ipung, Amd.Keb periode Oktober-Desember 2012. Jumlah responden yang digunakan yaitu 30 ibu nifas dengan luka perineum derajat II karena episiotomi dan melakukan kontrol pada hari ke 6-7 postpartum. Selain itu, dilakukan 2x24-hours Recall dengan kunjungan rumah dan observasi luka perineum pada ibu nifas yang kontrol pada hari 6-7 postpartum. Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa tingkat konsumsi protein berpengaruh terhadap kondisi penyembuhan luka perineum derajat II (p = 0,008), sedangkan untuk tingkat konsumsi zat besi tidak memiliki pengaruh terhadap kondisi penyembuhan luka perineum derajat II (p = 0,518). Hasil uji chi square tunggal tingkat konsumsi zinc (p = 0,278) menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan tingkat konsumsi zinc dengan kondisi penyembuhan luka. Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat konsumsi protein memiliki pengaruh paling besar terhadap kondisi penyembuhan luka perineum derajat II dibandingkan variabel lain. Kata kunci: Nifas, Penyembuhan luka perineum derajat II, Protein, Tingkat konsumsi, Zat besi, Zinc.

Author Biographies

Septia Sari Dewi, FKUB

FKUB

Soemardini Soemardini, FKUB

FKUB

Fajar Ari Nugroho, FKUB

FKUB

References

Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka. 2008. Hlm. 117-118, 357.

Hartiningtiyaswati S. Hubungan Perilaku Pantang Makanan dengan Lama Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas di Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta. 2010.

Stechmiller JK. Understanding the Role of Nutrition and Wound Healing. Nutr Clin Pract. 2010; 25(1):61-68.

Romi S. Kejadian Infeksi Luka Episiotomi dan Pola Bakteri pada Persalinan Normal di RSUP. H. Adam Malik dan RSUD. Dr. Pirngadi Medan. Tesis. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2009.

Guo S, DiPietro LA. Factors Affecting Wound Healing. J Dent Res. 2010; 89(3): 219-229.

Steen M. Perineal Tears and Episiotomy : How Do Wounds Heal?. British Journal Of midwifery. 2007; 15(5):273-279.

Huddleston JM, Withford KJ. Medical Care of Elderly Patients with Hip Fractures. Mayo Clin Proc. 2001; 76:295-8.

Russell. The Importance of Patients’ Nutritional Status in Wound Healing. Br J Nurs. 2001; 10(6): S42,S44-9.

Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2009. Hlm. 3,38,43-44,64-70,77,90-97,100-101,151.152,162,178,189,228,256,262.

Suprayitno E.. Penggunaan Albumin Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) Pada Penutupan Luka. Malang: Universitas Brawijaya. 2009.

Susilo J. Pengaruh Vitamin C terhadap Absorpsi Seng secara in vitro. Semarang: Universitas Diponegoro. 2000.

Downloads

Published

2016-12-06